Pernikahan Kaesang Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, dan Erina Gudono diselenggarakan dengan tradisi Jawa yang sangat kental dan aturan yang ketat. Salah satu aturan yang disampaikan adalah larangan bagi tamu untuk mengenakan busana motif batik parang. Hal ini tak terlepas dari makna batik parang.
Pihak penyelenggara acara pernikahan dan keluarga telah memberikan himbauan kepada para tamu undangan agar tidak menggunakan gaya busana batik dengan motif parang atau lereng. Ini adalah larangan yang secara langsung diatur dalam adat Mangkunegaran.

Jika disimak, batik parang sebenarnya adalah salah satu motif batik yang cukup terkenal dan populer di Indonesia. Namun, apa yang menjadi alasan batik ini tidak boleh digunakan di pernikahan Kaesang?
Mengenal Ciri Khas Batik Parang
Berbincang tentang batik parang, ada ciri khas pada batik tersebut yang membuatnya mudah dikenal. Jenis motif yang dimiliki batik parang sendiri masuk ke dalam kelompok batik motif garis miring yang tersusun membentuk sebuah pola dari garis sejajar.
Jika disimak, ada cukup banyak motif batik parang yang dihasilkan dari pembentukan pola baik melalui garis dan bentuk geometri lainnya. Tidak ada itu, dari setiap motif batik parang, ada ciri khas berupa garis diagonal yang membentuk huruf “S”.
Batik parang sebenarnya bukan hanya ditemukan di Solo dan Yogyakarta saja. Tetapi, motif batik ini hampir tersebar di seluruh pulau Jawa. Meskipun, adat Jawa sebenarnya juga memiliki motif batik lainnya yang tak kalah populer, termasuk batik kawung yang menjadi bahan baju batik Sehun EXO saat datang ke Indonesia.
Sejarah Singkat Batik Parang
Seperti disinggung sebelumnya, batik parang adalah salah satu motif batik tertua yang ada di Indonesia. Konon, awal kemunculan motif batik ini dimulai sejak zaman Keraton Mataram.
Kata “parang” berasal dari kata Pereng yang memiliki arti lereng atau tebing. Arti katanya sesuai dengan filosofi motifnya yaitu perengan yang menggambarkan sebuah garis menurun dan susunan huruf “S” melambangkan kesinambungan.

Batik ini sangat mudah dijumpai di daerah Solo dan Yogyakarta. Oleh karenanya, banyak kalangan menyebut daerah ini sebagai asal batik parang.
Hingga kini, batik dengan motif parang masih menjadi salah satu pilihan yang cukup populer. Tidak hanya dikenakan oleh orang tua saja, kawula muda pun kerap menjadikannya sebagai bahan untuk membuat baju tradisional.
Jenis Motif dan Makna Batik Parang
Batik parang memiliki beberapa motif yang berbeda. Tentu, jenis batik parang ini memiliki gambaran makna yang berbeda.
Adapun motif serta makna dari batik parang tersebut diantaranya adalah:
1. Parang Barong
Parang barong adalah motif batik parang yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ini adalah motif batik yang menjadi simbol parang yang paling besar dan agung.
Batik motif parang barong sering digunakan pada saat upacara ritual adat, terutama upacara khusus. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika batik dengan motif ini dianggap cukup sakral.
2. Parang Lereng
Parang lereng adalah motif batik parang yang sangat terkenal di Solo. Variasi motif batik parang ini memiliki nilai filosofis yang tinggi.
Budayawan mengatakan bahwa makna batik parang lereng adalah tidak mudah menyerah dalam memperbaiki diri. Hal ini semata karena perbaikan diri adalah apa yang harus dilakukan oleh setiap orang.
3. Parang Rusak
Terciptanya motif batik parang rusak terjadi pada saat Panembahan Senopati sedang melakukan meditasi di Pantai Selatan. Jalinan motif “S” yang tidak putus-putus memberikan makna batik parang rusak sebagai upaya dalam memperbaiki diri dan berjuang atas kesejahteraan.
4. Parang Klitik
Jenis motif batik parang lainnya adalah parang klitik. Detail batik parang ini memiliki motif parang yang halus, berukuran kecil, dan memiliki citra feminim.
Sedangkan dari segi filosofis, makna batik parang klitik adalah melambangkan kelemahan terhadap kelembutan, perilaku halus, dan kebijaksanaan. Batik dengan motif ini sering digunakan oleh puteri Raja atau Sultan pada zaman dahulu.

5. Parang Kusumo
Makna batik parang kusumo adalah perjuangan untuk memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Kebahagian ini didapatkan layaknya harum bunga Kusuma.
Pada zaman dahulu batik motif parang kusumo hanya diperbolehkan untuk kalangan keturunan raja saja. Seiring dengan perkembangan zaman, kini batik parang kusumo sudah bisa digunakan oleh siapa saja.
6. Parang Kencana
Batik parang kencana adalah motif batik parang yang mengusung konsep klasik dan modern. Hal ini dapat terlihat dari motif-motif parang kencana yang memiliki nuansa heritage. Dari segi makna, batik parang kencana melambangkan batik legendaris tradisional yang tidak lekang oleh waktu.
Motif Batik Terlarang di Pernikahan Kaesang
Lantas, apa motif batik parang yang dilarang dalam pernikahan Kaesang?
Motif batik parang yang tidak boleh digunakan bagi para tamu undangan pernikahan Kaesang dan Erina Gudono adalah batik parang lereng. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan langsung oleh Kasultanan Puro Mangkunegaran yang mengatakan bahwa,
“Seperti di Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Puro Pakualaman Yogyakarta, motif batik parang adalah motif batik terlarang yang hanya boleh dipakai oleh Adipati dan keluarganya, hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Dinasti Mataram.”

Motif larangan salah satunya seperti batik parang lerengan penggunaanya sudah diatur dalam tradisi Keraton dan Kasultanan. Inilah yang menjadi alasan kenapa tidak boleh sembarangan orang menggunakan batik parang. Penggunaan batik ini hanya diperkenankan untuk orang tertentu saja.