Batik Tobungku menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Morowali. Karena dengannya, identitas daerah akan semakin dikenal. Terlebih setelah dunia menetapkan batik sebagai produk khas Indonesia, tentu dengan adanya produk khas daerah yang dipatenkan semakin menambah beragamnya jenis batik.
Pada acara HUT Kabupaten Morowali ke-22 sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) diberikan atas hak cipta Batik Tobungku. Momen tersebut selain menggembirakan masyarakat daerah, juga membahagiakan masyarakat Nusantara. Pasalnya dengan adanya produk tersebut semakin menambah kekayaan produk khas daerah bangsa ini.
Sebagai bangsa dengan peradaban besar, tentu banyak peninggalan kekayaan yang dimiliki oleh negara ini. Jika pun sudah ditemukan dan dikenal masih banyak yang belum mendapatkan sertifikasi. Momen sertifikasi seperti batik ini tentu masih dinanti untuk hasil kekayaan lain oleh penduduk Indonesia.
Setelah dipatenkan popularitas batik ini tentu akan semakin terkenal. Terlebih jika ke depan nanti telah dijadikan produk jadi baik dalam pakaian atau pun yang lain. Dan berikut adalah sedikit ulasan tentang batik khas Kabupaten Morowali.

Apa Itu Batik Tobungku Khas Morowali?
Dari banyaknya koleksi produk hassa salah satunya diisi oleh berbagai macam batik. Bangsa ini memiliki banyak jenis karya dari produk satu ini. Bahkan pada daerah-daerah tertentu seperti Jogja ataupun Solo mempunyai lebih dari satu macam batik.
Membatik menjadi salah satu keterampilan leluhur Nusantara disamping menenun. Hal tersebut menjadi bukti bahwa ketekunan merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh para leluhur. Termasuk pada Batik Tobungku yang merupakan hasil karya para leluhur masyarakat Morowali.
Yasher Sakita menjadi tokoh penemu kekayaan daerah tersebut. Melalui sebuah dokumen tertulis Belanda, dirinya menemukan penjelasan tentang sebuah produk kain tenun Tobungku. Dalam temuannya tersebut diketahui bahwa menenun adalah kebiasaan para perempuan penduduk Morowali di masa lalu.
Dahulu kain tenun Tobungku dikenal dengan sebutan hinoru. Namun karena pergantian penduduk atau regenerasi akhirnya kosakata tersebut akhirnya hilang dari tata bahasa daerah. Entah karena faktor penjajahan ataupun gejala alam, produk dari hinoru tidak ditemukan dalam bentuk detail.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis Van Der Hart semakin menguatkan tentang kebiasaan para perempuan Morowali di masa lalu tersebut. Kemahiran mereka dalam menghasilkan kain tenun bahkan tidak hanya untuk keperluan pribadi namun juga untuk dijual. Namun dalam literasi yang disampaikannya tradisi menenun dikenal dengan istilah mohoru.

Walaupun terdapat perbedaan dari kedua istilah diatas, namun kesimpulannya tetap sama bahwa menenun telah menjadi tradisi. Dan salah satu produk yang telah dihasilkan adalah kain Tobungku. Bahkan juga ditemukan di daerah Halmahera Utara varian lain dari kain ini yang dikenal dengan nama Ba’a Tobungku pada awal abad 20.
Dengan demikian salah satu batik Morowali ini merupakan turunan dari kain tenun peninggalan para leluhur. Kain tersebut kemudian diberikan motif sehingga memiliki corak seperti batik. Sedangkan coraknya sendiri memiliki motif bulat, belah ketupat dan tumpal. Motif tersebut didapatkan dari wadah kubur Soronga.
Soronga merupakan wadah yang memiliki bentuk persegi panjang terbuat dari kayu. Biasanya wadah tersebut digunakan oleh para pendahulu dalam ritual pemakaman. Dan pada setiap wadah tersebut terdapat berbagai macam ragam hias. Semakin banyak ragam hias yang dimiliki menunjukkan strata yang tinggi mayat tersebut di masyarakat.
Ragam hias yang ada memiliki banyak variasi dan terkesan indah. Dengan demikian ragam hias tersebut menjadi inspirasi untuk dibubuhkan dalam kain sehingga menjadi produk kain batik. Dengan adaptasi yang penuh kecermatan dan ketelitian akhirnya berhasil dibuat produk kain batik Tobungku yang indah menawan.
Warna Batik Tobungku
Tidak bisa dipungkiri warna turut andil dalam membuat sebuah kain batik tampak indah. Perpaduan antara motif dan warna yang serasi akan menghasilkan harmoni. Melalui tangan orang-orang yang telaten seperti penduduk Nusantara, warna yang dipadukan dengan berbagai motif mampu menjadi karya menakjubkan.

Hal itu juga yang tertera dalam batik khas Kabupaten Morowali ini. Dengan kepiawaian yang dimiliki, pewarnaan yang dilakukan pun tidak sembarangan. Bukan sekedar asal membuat produk indah dan bisa dijual, namun juga memiliki nilai filosofi yang diambil dari peninggalan leluhur.
Warna Batik Tobungku diambil dari salah satu senjata peninggalan leluhur mereka di masa lalu, yaitu perisai yang dikenal dengan kanta. Dalam kebiasaan leluhur dahulu dikenal berbagai macam senjata yang diantaranya tombak yang terdiri dari ponsaku, yua, alfuru dan tobungku. Pedang besar yang biasa disebut ngomu dan pedang biasa yang terdiri dari pada, badi, alfuru dan tobungku.
Penulis De Clerq menyatakan bahwa tidak semua senjata digunakan untuk berperang. Pedang besar dan sumpit biasa digunakan oleh masyarakat Suku Bungku untuk berburu. Selain itu setiap senjata yang memiliki bagian yang disebut dengan Tobungku biasanya memiliki ornamen yang dan warna tertentu.
Namun karena warna yang ada pada perisai terkesan lebih indah dan menarik, maka itulah yang diambil untuk pewarnaan batik. Atas gabungan filosofi dan keindahan tersebut, diharapkan dapat memberi semangat pada generasi penerus agar lebih mencintai peninggalan para leluhurnya.
Jika dipadukan menjadi satu maka batik yang telah dipatenkan ini juga memiliki filosofinya sendiri. Lahiri. Teili dan Mate menjadi filosofi yang harus terus dijaga. Lahiri memiliki makna bahwa setiap manusia yang ada di dunia pernah dilahirkan dalam keadaan lemah seperti kain. Kemudian mengalami pertumbuhan menjadi manusia Tangguh, kuat dan bermental baja yang disebut Teili. Dan setelah mati (Mate) manusia akan kembali kepada penciptaNya.
Nah itulah sedikit informasi terkait Batik Tobungku dari Kabupaten Morowali. Sudah selayaknya kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia turut berbahagia dengan dipatenkannya salah satu kekayaan ini. Apakah anda tertarik untuk memiliki batik ini?